Portal Resmi HMPS Teknologi Informasi
HMPS TI
HMPS TI Teknologi Informasi UPMS
Program Studi Teknologi Informasi

Membangun Komputasi Tangguh, Riset Terapan, dan Kolaborasi Mahasiswa.

Pusat diseminasi kegiatan akademik, manajemen penugasan praktikum, warta kompetisi, serta publikasi showcase karya inovasi mahasiswa.

[ 3D Node: Gerakkan Kursor ]
Mahasiswa Aktif 10+
Departemen HMPS 4 Divisi
Riset & Project 15+
Node Server STB ARM

Pimpinan Akademik & Organisasi

Visi Teknologi Informasi
TI

Ketua Program Studi

Teknologi Informasi UPMS

“Program Studi Teknologi Informasi berorientasi pada kemandirian rekayasa komputasi, keandalan arsitektur perangkat lunak, serta implementasi sistem cerdas beretika untuk menjawab kebutuhan industri modern.”

Fokus: Software Architecture & Networks Akademik Resmi
HM

Ketua Himpunan Mahasiswa

HMPS TI Periode Berjalan

“Himpunan adalah wadah eksperimen dan kolaborasi. Kami mendorong setiap mahasiswa memiliki portofolio riil, membiasakan tata kelola server mandiri, dan berani bersaing di panggung kompetisi nasional.”

Inisiatif: Open Source & Research Kabinet Mahasiswa

Struktur Departemen HMPS TI

Badan Pengurus Harian dan Divisi Fungsional Organisasi.

01. BPH INTI

Presidium & Administrasi

Ketua, Wakil, Sekretaris, dan Bendahara yang mengorkestrasi legalitas serta ketertiban organisasi.

02. DEPARTEMEN TEKNO

Riset & Pengembangan

Pemeliharaan server STB Linux, repositori kode, workshop komputasi, dan tim delegasi lomba.

03. KADERISASI PSDM

Pengembangan Anggota

Mentoring akademik, bimbingan mata kuliah dasar, dan pembentukan etos kerja calon penerus.

04. MEDINFO

Publikasi TI-Chronicle

Redaksi warta jurnalisme, dokumentasi acara, serta pengelolaan kanal media resmi himpunan.

TI-Chronicle Terkini

Warta, info kompetisi, dan rilis karya mahasiswa.

Semua Warta →
hmps info • 25 Oct 2026

Ancaman Krisis Air di Balik Kilau AI: Mengapa Data Center Menguras Triliunan Liter Air Bersih Global?

**NGANJUK, HMPS TI** – Perkembangan pesat teknologi Kecerdasan Buatan **(Artificial Intelligence/AI)** membawa kemudahan luar biasa bagi kehidupan manusia. Mulai dari pengerjaan tugas kuliah, otomatisasi pemrograman, hingga analisis data skala besar kini bisa diselesaikan dalam hitungan detik. Namun, di balik kecanggihan operasional digital tersebut, terdapat dampak lingkungan masif yang jarang disadari publik. Pusat data (data center) global yang menjadi infrastruktur utama penyokong AI terbukti mengonsumsi air bersih dalam jumlah yang sangat mengkhawatirkan. Sebagai mahasiswa Teknologi Informasi (TI) di Nganjuk, fenomena krisis lingkungan digital ini menjadi topik krusial untuk dibahas. Transformasi teknologi tidak sekadar tentang efisiensi kode atau kecepatan komputasi, melainkan juga tentang tanggung jawab ekologis dan keberlanjutan sumber daya alam (sustainability). Mengapa Server AI Sangat Haus Air Bersih? Komputasi AI, terutama untuk model AI generatif tingkat tinggi memerlukan ribuan unit pemrosesan grafis (GPU) yang bekerja ekstra keras secara bersamaan. Aktivitas pemrosesan ini menghasilkan panas ekstrem yang dapat merusak komponen perangkat keras jika tidak didinginkan dengan cepat. Metode pendinginan yang paling efisien secara biaya dan energi saat ini adalah sistem pendingin evaporatif (evaporative cooling). Sistem ini mengalirkan air bersih ke menara pendingin untuk menyerap panas dari server, lalu menguapkannya ke atmosfer. Sayangnya, air yang menguap tersebut tidak bisa langsung dialirkan kembali ke dalam sistem dan terbuang begitu saja dari siklus air lokal. Penggunaan air keran biasa atau air laut yang tidak diolah juga tidak memungkinkan karena kandungan mineral, kotoran, dan garamnya dapat memicu korosi serta kerak pada pipa pendingin mikro yang sensitif. Akibatnya, industri teknologi sangat bergantung pada pasokan air bersih yang layak konsumsi. Menakar Skala Konsumsi: Dari Skala Makro hingga Mikro Dampak dari tingginya kebutuhan air ini tercermin jelas melalui data dari berbagai riset global terbaru: • Proyeksi Global 2027: Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Water Research memproyeksikan bahwa jejak pengambilan air global terkait operasional AI dapat menembus angka 4,2 hingga 6,6 miliar meter kubik per tahun pada 2027. • Prediksi PBB untuk 2030: Laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan pusat data secara global dapat menghabiskan hingga 9,3 triliun liter air per tahun pada tahun 2030 mendatang. • Jejak Air per Kueri: Setiap kali seorang pengguna memasukkan 10 hingga 50 perintah (prompts) berukuran sedang pada chatbot AI, sistem secara tidak langsung menghabiskan air bersih setara dengan satu botol ukuran 500 mililiter demi mendinginkan server penyedia layanan tersebut. • Laporan Industri: Sebagai gambaran skala raksasa, Google dalam laporan keberlanjutan terbarunya mencatat konsumsi air tawar yang sangat besar, meskipun mereka mengklaim telah melakukan program pengisian kembali air (replenishment) sekitar 7,7 miliar galon untuk membantu memulihkan ekosistem sekitar. Dampak Nyata bagi Masyarakat dan Lingkungan Ketergantungan pusat data pada air permukaan dan air tanah mulai memicu konflik sosial di beberapa belahan dunia. Di wilayah yang padat fasilitas hyperscale data center seperti Virginia dan Texas (Amerika Serikat), warga lokal mulai mengeluhkan penurunan tekanan air sumur, kontaminasi air tanah menjadi keruh cokelat, serta ancaman kekeringan berkepanjangan pada sektor pertanian. Kondisi ini memicu kekhawatiran global bahwa alokasi air bersih yang seharusnya diprioritaskan untuk konsumsi manusia dan irigasi pangan justru tersedot demi memenuhi kebutuhan industri digital komersial. Bagaimana dengan Indonesia? Isu ini sangat relevan dengan perkembangan infrastruktur teknologi di tanah air. Di Indonesia sendiri, industri pusat data mengalami lonjakan kapasitas yang sangat masif. Berdasarkan proyeksi sektor IT, kapasitas pusat data nasional yang berada di kisaran 200 MW meningkat pesat menjadi sekitar 400 MW, dengan target ambisius pemerintah mencapai 2 GW pada tahun 2030. Meskipun fokus utama pemerintah saat ini adalah pemenuhan kebutuhan listrik dari energi terbarukan (renewable energy), ketersediaan dan pengelolaan air bersih untuk sistem pendingin data center domestik wajib menjadi perhatian serius agar tidak memicu krisis air bersih bagi masyarakat lokal di masa mendatang. Peran Mahasiswa TI dalam Menghadirkan Solusi Green IT Sebagai generasi penerus di bidang Teknologi Informasi, mahasiswa tidak boleh menutup mata terhadap dampak lingkungan dari teknologi yang diciptakan. Tantangan masa depan bukan lagi sekadar membuat program yang cerdas, melainkan bagaimana menerapkan prinsip Green IT (Teknologi Hijau) secara nyata. Beberapa solusi yang kini mulai dieksplorasi oleh industri teknologi global meliputi: 1. Sistem Pendingin Tertutup (Closed-Loop Cooling): Mengembangkan teknologi pendinginan daur ulang di mana air disirkulasikan kembali tanpa harus diuapkan ke atmosfer secara masif. 2. Pusat Data Bawah Laut atau Beriklim Dingin: Memanfaatkan suhu dingin alami lingkungan—seperti yang mulai diuji coba di wilayah pesisir Tiongkok dan negara Nordik—untuk menekan kebutuhan air pendingin artifisial. 3. Optimasi Algoritma: Merancang arsitektur model AI yang lebih efisien dan hemat daya komputasi (lightweight AI models), sehingga beban pemrosesan pada server berkurang secara signifikan. 4. Pemanfaatan Air Non-Potable: Mengembangkan sistem penyaringan mutakhir agar pusat data bisa beroperasi menggunakan air limbah yang telah didaur ulang atau air industri, alih-alih mengambil jatah air bersih warga. Melalui pemahaman yang komprehensif mengenai dampak ekologis AI ini, diharapkan mahasiswa TI dapat menjadi pionir inovasi yang bijak—mampu mendorong batasan teknologi tanpa mengorbankan keberlanjutan bumi tempat kita tinggal.

Ilham Wahyu Hidayat 5 dibaca